"Ya', duite iseh ora?"
Kata Bapak sesaat setelah aku beranjak untuk melakukan check-in dan menuju ruang tunggu. Aku menoleh dan mendapatinya bersiap mengeluarkan dompet seakan anak perempuannya ini masih duduk di bangku sekolah dan mintabuang jajan. Aku selalu tahu, Bapak selalu khawatir aku kehabisan uang, Bapak khawatir aku tidak makan karena harus menyisihkan uang untuk kebutuhan kuliah dan tugas akhir, Bapak juga khawatir aku tidak bisa menyisakan uang untuk keadaan darurat. Hal itu sudah terjadi selama empat tahun sejak aku memutuskan untuk kuliah di Jogja, jauh dari rumah. Aku pernah beberapa kali melakukan telepon darurat di akhir bulan karena uang menipis. Hal tersebut yang mendasari kekhawatiran Bapak, bahkan hingga saat itu.
Ibu pernah bercerita tentang Bapak yang gelisah menanyakan keadaanku di Jogja karena hingga penghujung bulan tidak ada telepon darurat dariku meminta uang tambahan. Ternyata bagi Bapak, empat tahun di kota orang belum cukup untuk melepas anak perempuannya.
Saat masih kuliah mungkin dengan wajah cengengesan aku akan menjawab, "habis, hehehe minta uang," tapi tidak untuk hari ini. Kali ini aku ingin membuktikan bahwa aku bisa diandalkan dan Bapak tidak perlu khawatir lagi. Di sana Bapak tampak menunggu jawaban. Sambil mengacungkan ibu jari aku tersenyum.
"Amaaaaan, uangku banyak.." jawabku yakin sambil tertawa. Bapak mengangguk lega.
Aku tertawa bangga pada diriku sendiri. Aku bergegas berjalan melewati petugas pemeriksaan tiket. Saat aku menoleh lagi, Bapak masih di sana, belum beranjak dan tetap tersenyum. Aku melambaikan tangan, Bapak tidak membalas, tetapi tetap tersenyum. Tiba-tiba aku merasakan rindu yang begitu besar tanpa alasan.
*
Di sisi peron aku duduk menunggu keretaku datang. Kereta itulah yang membawaku menuju Jakarta, kereta yang kemudian menjauhkan aku dari rumah, memisahkan aku dan Bapak untuk selama-lamanya.
Sebab dua minggu kemudian Bapak pergi secara tiba-tiba tanpa sempat berpamitan kepadaku.
December 30, 2017
December 20, 2017
July 24, 2016
Patah
Kampung Baru, malam berangin.
Ada begitu banyak kisah yang terbubuh di atas tanah Banda dengan kami menjadi pemainnya. Kemudian Banda hanya diam, tidak bereaksi apapun selain menjadi saksi yang bisu, walaupun kita semua tahu dia tidak pernah tuli. Tanah ini menjadi pentas, penonton, dan atmosfer yang menaungi. Tanah ini menjadi buku yang menuliskan apa yang terucap dan apa yang terpendam. Tanah ini menyimpannya, kisah yang terjalin di setiap jalanan, di sepanjang garis pantai, di kedalaman laut yang gelap, di atas kapal, di atas pasir, di manapun kaki dan hati berpijak.
Ada begitu banyak kisah yang terbubuh di atas tanah Banda dengan kami menjadi pemainnya. Kemudian Banda hanya diam, tidak bereaksi apapun selain menjadi saksi yang bisu, walaupun kita semua tahu dia tidak pernah tuli. Tanah ini menjadi pentas, penonton, dan atmosfer yang menaungi. Tanah ini menjadi buku yang menuliskan apa yang terucap dan apa yang terpendam. Tanah ini menyimpannya, kisah yang terjalin di setiap jalanan, di sepanjang garis pantai, di kedalaman laut yang gelap, di atas kapal, di atas pasir, di manapun kaki dan hati berpijak.
Di Banda Neira ada jalanan yang tak akan pernah terhapus
dari ingatan, selama-lamanya. Aku telah melewati jalanan itu berkali-kali,
dengan sosok yang berbeda-beda, dengan kisah yang bermacam-macam, dengan hati
yang tidak pernah sama pula. Aku pernah merasa begitu jatuh, menangis tanpa
berhenti seperti anak kecil. Aku pernah merasa rapuh, takut, rindu, marah,
bahkan aku pernah merasa sangat bahagia sampai tidak berhenti tersenyum.
Ada kesah, mengakar, membuatku mengkhawatirkan semua hal
secara berlebihan. Ada kesah, menyublim, terhirup lalu terbuang dan terhirup
lagi, aku takut jika aku tidak bisa mencintai tempat ini. Aku tak pernah
bermimpi akan melangkah sejauh ini dari rumah. Ibu mungkin sudah sangat pasrah
melepas anak gadisnya pergi sejauh apapun, mengejar apapun, terhitung sejak aku
sering diam-diam pergi mendaki gunung-gunung yang menurutnya pantas disebut
“jauh”. Tetapi aku tidak pernah membayangkan Banda, sama sekali.
Dan di tanah yang jauh ini, tak pernah kusangka, aku akan
mengalami patah hati yang sepatah-patahnya. Patah, lalu mencelos kosong. Aku
jelas menangis, siapapun pasti menangis. Kurasa patah itu sangat patah,
sehingga tanpa disadari ia telah mematikan hati sehingga tidak terasa apa-apa
lagi.
Yang patah
tumbuh, yang hilang berganti. Yang hancur lebur, akan terobati.
Adnan, salah satu teman, sangat menyukai lagu ini, dinyanyikannya
berulang-ulang agar aku terhibur dan tidak bersedih lagi.
Aku tidak patah, aku terbelah, apakah akan kembali tumbuh? Aku tidak kehilangan, ia pergi dengan kesadarannya sendiri, apakah akan ada pengganti? Aku tidak hancur lebur, aku lenyap, apakah masih bisa terobati?
Tapi aku menemukan sahabat, yang justru tidak terlalu
peduli dengan kepatahanku, tidak terlalu mengungkit kejatuhanku, tidak terlalu
bicara tentang hati. Mereka bilang urusan hati nomor sekian, yang pergi biarlah
pergi, hidup ini bertambah sulit untuk dijalani dengan membawa serta urusan
perasaan. Semua berjalan seperti tidak ada apa-apa, sehingga aku pun dengan mudah
bisa merasa seperti tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa berarti tidak ada rasa
sakit, dan aku menyukai cara mereka menyembuhkanku, entah sadar atau tidak.
Kini aku tidak mengerti lagi bagaimana caranya berucap terima kasih.
Aku memang sangat patah, tetapi kurasa tanpa patah, tanpa kosong, aku tidak akan pernah bisa merasa jatuh cinta sedalam cintaku di kemudian hari kepada tanah ini.
Begitu bukan?
Aku memang sangat patah, tetapi kurasa tanpa patah, tanpa kosong, aku tidak akan pernah bisa merasa jatuh cinta sedalam cintaku di kemudian hari kepada tanah ini.
Begitu bukan?
July 10, 2016
July 06, 2016
May 08, 2016
Dibungkam
Dalam
serangkaian kisah, inilah cerita paling menggambarkan betapa aku dibuat bisu.
Aku hanya mampu berteriak dalam hati, tidak mampu bersuara sama sekali.
Aku pernah mendaki
Semeru, dengan berbekal mimpi teguh menapaki atap pulau Jawa, menjadi yang
tertinggi dibandingkan seluruh umat di pulau ini, menjadi yang terkuat di
antara yang berusaha. Aku pernah mendiami teduhnya Ranu Kumbolo, menikmati
anginnya yang sejuk dan menusuk, menelan sengat mataharinya yang membakar, dan
terlelap dalam gigil kemarau yang luar biasa hebat. Aku pernah menapaki
Kalimati dan tenggelam dalam pasir-pasir menuju puncaknya, menyelami mistisnya
hutan Arcopodo dalam tabur bintang, berdamai dengan rasa takut dan kerdil,
meneguhkan hati untuk berani dan kuat. Aku pernah menjejaki Mahameru, tanah
tertinggi Jawa, menyentuh bendera yang diam di sana, menatap Jogring Saloka
dengan mataku sendiri, terpukau dengan letupannya, gemuruhnya, semburan awan
tebalnya, tetapi tidak pernah aku sebungkam pendakian ini.
Rinjani
adalah misteri, yang menawarkan jawaban atas keindahan-keindahan asing yang
menakjubkan yang selama ini aku inginkan. Rinjani bukan lagi di pulau Jawa,
tempat di mana gunung-gunung menjulang dengan tipe-tipe yang sama. Rinjani
adalah tanah yang benar-benar tidak terduga, membuatku ternganga berkali-kali,
menamparku tanpa habis hingga aku menangis.
Semenjak
disuguhi hamparan rerumputan hijau tiada tepi, aku terpana. Sabana yang luar
biasa luas menghampar seperti tidak memiliki ujung. Tanpa teduh, tanpa pohon,
hanya rumput yang berdampingan dengan sungai kering. Aku berjalan di setapak
tanah, menyusuri hijau yang terik, mengagumi sabana terindah dalam hidupku
selama ini. Di kejauhan turun kabut tipis, lalu tersibak mengantarkan
pemandangan mengagumkan puncak Dewi Anjani berwarna keabuan. Semangatku
membara, aku harus segera sampai.
*
Aku memiliki
sebuah daftar rahasia, berisi mimpi-mimpi, baik mimpi yang akan kucapai kelak,
maupun mimpi yang akan tetap kujaga menjadi mimpi selama-lamanya. Ada sebuah
daftar bernama “Daftar Puncak yang Harus Tiut Injak Sebelum Mati”, yang
berisikan nama-nama gunung impian yang harus aku datangi selama hidup. Di sana
ada beberapa gunung, baik yang belum pernah aku datangi, maupun yang ingin aku
datangi lagi. Tetapi, teman, di sana tidak ada Rinjani, karena aku belum
bermimpi menginjakkan kaki di sana.
Di dalam
setiap pendakian menggoda, ada saja penghasut yang selalu berhasil merayu untuk
pergi meskipun aku terus-menerus menolak secara halus. Tapi diri tidak dapat
berbohong, sebagian hati menginginkan untuk pergi, ketinggian memang candu, aku
tidak akan menolak untuk menelannya sebanyak mungkin hingga overdoze.
*
Aku
dibungkam. Begitu saja. Dalam empat hari empat malam yang senyap itu tidak sekalipun
dibiarkannya aku berbicara dan mengoceh seperti biasanya. Tanahnya teguh,
alamnya memabukkan, manusia dan suasana yang kutemui benar-benar asing dan
magis. Siangnya riuh, malamnya teduh, menakutkan seperti dendam. Aku bahkan
lupa untuk mengumpat dan mengeluh. Rinjani benar-benar ajaib dan tidak ada yang
bisa mengalihkan pandanganku dari hamparan keajaiban itu selain tubuh yang
mulai bergetar dihantam dingin akibat terlalu lama berdiri terkagum. Rinjani
membuka mataku lebar-lebar, bahwa dunia ini luas sekali dan aku belum meraih sekeratpun
darinya.
Aku meraih
kemeja flannel di punggung, berdamai dengan angin.
Tetapi masih
tertegun.
*
January 06, 2016
Pertanyaan di Suatu Sudut Kedai Kopi di Jalanan yang Tidak Kunjung Sepi
Aku berada di tahun ketiga. Betapa
pikiranku pada akhirnya semakin yakin bahwa aku benar-benar tersesat di jalan
yang sama sekali tidak benar. Aku mulai mempertanyakan mengapa aku baik-baik
saja seperti ini tanpa bertanya-tanya. Apa aku harus bertanya mengapa sulit
untuk mencintai apa yang berusaha kupertahankan? Atau justru aku harus
bertanya, mengapa bisa bertahan selama ini? Apa yang harus aku pertanyakan
untuk ketidakapa-apaan ini sebenarnya…
Aku saja tidak pernah
mempertanyakan mengapa aku tidak pernah berlomba-lomba dengan mereka yang memburu
perangkat lunak penunjang pemetaan, aku baru akan memasangnya saat dosen yang
meminta. Ambisi setingkat itu mungkin tidak bersama bocah tengil yang tidak
membuat layout peta dengan AutoCAD maupun ArcGIS melainkan CorelDRAW, atau
bocah tengil yang tidak menghormati ENVI dan ER Mapper untuk melakukan
penajaman citra digital melainkan menggunakan Adobe Photoshop. Mengapa seperti
ingin berlari dengan rantai di kaki? Mengapa tidak sejak dulu saja.
Mengapa aku merasa sangat baik-baik
saja, meskipun aku tahu seharusnya aku tidak.
Mengapa aku selalu tidak apa-apa.
Oh, tenang saja. Ini hanyalah
segenggam pikiran yang menyelami dirinya sendiri di suatu sudut kedai kopi di
jalanan Yogyakarta yang tidak kunjung sepi, atau surut gemuruhnya bahkan hingga dini hari.
Esok ia telah menguar di udara bersama sisa gerimis yang mongering.
Aku menenggak pahit sesunyi
mungkin. Sementara sosok-sosok di sekeliling diam menyelami kepalanya sendiri.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
